Kelabu Berkelambu

Understanding the space between everything. Cinemafreak. Naturalist wannabe. Hail orientalism.

iran:

When I run after what I think I want, my days are a furnace of stress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me. There is a great secret here for anyone who can grasp it.

~Rumi

Maaf. Karena gengsi, malu, dan ego, ia tidak mudah terlontar oleh lidah. Maaf. Mungkin dunia akan menjadi lebih indah bila ia dengan mudahnya ada. Maaf. Mengapa ia begitu sulit untuk diucapkan. Baik kepada penumpang yang jatuh terluka akibat keteledoran supir angkot maupun kepada seorang gadis naif yang terlanjur diberi harapan palsu. Naluriah rasanya meminta maaf ketika manusia berbuat salah. Logikapun tak akan bohong pada hati. Pernahkah orang memperhatikan, ketika manusia berbuat salah, dan daripada ia meminta maaf, ia bertingkah seperti apa? Kadang ia menjadi begitu agresif, kadang ia langsung menghilang, lalu perlahan-lahan muncul kembali. Maaf atau tidak adanya maaf, manusia berpikir bahwa masalah akan selesai di tempat. Orang yang sama, tempat yang sama, momen yang sama, tidak mungkin akan terulang atau dapat diperagakan ulang. Tapi perasaan tidak punya dimensi. Sekali kesalahan menoreh rasa sakit atau marah di atasnya, ia tidak sulit untuk hilang. Mungkin mata itu tidak menatap, mungkin bibir itu tidak mengucap. Tapi hati bisa mengarahkan rasa itu menjadi sesuatu yang lebih besar. Noda hitam yang besar. Karena tidak munculnya kata maaf, sudah berapa besar noda hitam yang orang ciptakan di hati-hati lainnya. Ya, kita adalah makhluk yang berjalan membawa noda hitam yang terus membesar tanpa tahu harus ke mana membuangnya. Kita adalah makhluk yang menunggu kata “maaf” terucap oleh seseorang. Kita adalah makhluk yang tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf.

Kata Pengantar Skripsi

Skripsi ini adalah wujud rasa rindu saya akan alam Sumatra yang sudah tidak seperti seabad yang lalu, ketika orang-orang masih terlalu bodoh untuk merusak hutan dan terlalu takut untuk menyakiti makhluk di dalamnya. Ketika tidak ada pabrik besar dan manusia rakus yang membakar hutan dan mengeruk perut bumi sesuka hati. Ketika Ibu Bumi belum menangis tersedu-sedu dan berang menyerang balik manusia yang menyakitinya. Ketika orang-orang Sumatra masih menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan mencintai alam seperti temannya sendiri. Ketika alam masih menjadi pelarian yang dapat memberi rasa aman dan nyaman dari tekanan hidup manusia.

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa pikiran dan kemauan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yang wujudnya diinterpretasikan berbeda-beda oleh masing-masing manusia. Tuhan jugalah yang memberi kesabaran dan toleransi yang besar kepada Ibu Dr. Adriani Lucia Hilman, untuk mengarahkan pikiran saya yang terpecah-pecah selama proses penulisan. Atas hal itu dan atas waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi tentang apa saja, saya persembahkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.

Ucapan terima kasih juga saya persembahkan kepada Kepala Koordinator Progran Studi Jerman Universitas Indonesia, Ibu M. Sally H. L. Pattinasarany, M.A., kepada para pembimbing akademis yang sudah menemani saya dari awal perkuliahan, yaitu Ibu Leli Dwirika, S.S., M.A., Bapak Raden Muhammad Arie Andhiko Ajie, M.A. dan Ibu Sonya Puspasari Suganda, M.A., kepada pembimbing skripsi saya, yaitu Ibu Dr. phil. Lily Tjahjandari dan pembaca skripsi saya, Ibu Dr. Gabriella Otto, juga kepada seluruh staf dosen dan pengajar yang sudah banyak memberi saya ilmu selama empat tahun yang luar biasa ini.

Tidak lupa saya ucapkan rasa terima kasih kepada penghuni Melati 30 Pekanbaru yang selalu dapat membuat saya tersenyum dan rindu untuk kembali ke kampung halaman, meskipun hanya untuk sekedar main konsol bersama di siang terik atau berbincang-bincang tentang dunia di ruang makan yang sudah tua. Ketangguhan saya adalah ketangguhan mereka yang selalu mendukung dan percaya pada apapun keputusan yang saya perbuat. Saya adalah apa yang saya dapat dari keluarga dan hal itu tak akan saya tukar dengan apapun.

Kepada teman-teman seangkatan dan sejurusan Sastra Jerman Universitas Indonesia yang sudah menemani masa empat tahun kuliah, saya sampaikan rasa sayang dan terima kasih, khususnya untuk Mbak Galuh, Naya, Tata, Eva, Indah, Tedy, Nael dan teman-teman SKR48 (Siska, Olly, Maya, Nuke, Clara, Ardel, Mona dan Rey) juga kepada Kembang Dini Rachmawati, teman satu kos saya. Bila bukan karena kalian, saya pasti akan frustasi dan tidak akan bertahan lagi seperti saat perkuliahan saya di tahun 2009.

Terakhir dan paling spesial, saya mempersembahkan skripsi ini untuk Alm. Elben Syamsir Yacoub, S.E., seorang kakek yang selalu mendorong saya untuk menuntut ilmu, mengajarkan saya untuk menjadikan akal pikiran sebagai dasar utama untuk menjalani hidup, menceritakan hikayat yang membantu saya menemukan jati diri, meskipun saya terlalu angkuh untuk sekedar duduk-duduk bersamanya, menemaninya agar tidak merasa sendirian di akhir hayatnya. Rasa terima kasih saya persembahkan kepadanya dengan sepenuh hati, begitu juga rasa maaf dan menyesal karena menjadi sarjana dalam waktu yang sangat terlambat, tepatnya delapan bulan setelah ia tidak lagi ada di ruang televisi itu, duduk-duduk menanti saya pulang.

Depok, 23 Juni 2014
Mutiara

Foto wisuda yang paling saya suka. Bersama Teteh Reyninta Soerjadjanegara.

Foto wisuda yang paling saya suka. Bersama Teteh Reyninta Soerjadjanegara.

Ego kita besar, kawan. Oleh sebab itu, kita sulit kumpul bersembilan. Tapi itu jugalah yang membuat hubungan kita unik. Terbukti, hanya kita yang mampu bertahan dengan pribadi kita masing-masing yang seperti itu. Orang lain sudah ngacir dari zaman kapan tahu. Kita begitu kekanak-kenakan. Kita begitu sulit membuka diri dengan lingkungan. Kita terlalu nyaman bersembilan. Sampai-sampai kita lupa kalau ada teman-teman lain di kehidupan. Beberapa orang bilang kita bersembilan karena etos belajar kita yang sama, dekat dengan dosen dan bla bla bla lainnya. Memang benar, sih. Jika bukan karena jurusan yang neraka ini, kita tidak akan bersembilan. Suara tertawa kita sangat keras, kadang-kadang terlalu keras. Begitulah kalau bertemu orang yang selera humornya sama.
Rey “Frau Wolff”, Mona “Si Butet”, Maya “Miss Sunshine”, Nuke “The Anxious One”, Clara “Mittelalter Girl”, Ardel “Si Cewek Bebek”, Siska “Paling Senior tapi Seperti Junior”, Olly “The I-Keep-My-Life-So-Simple Man”, dan Mumut “The Overthinker”.
Viel Erfolg dengan masa depan. Sampai jumpa lagi tahun depan saat nikahan Siska dan Dika yang sudah kita sangka akan nikah duluan.

Ego kita besar, kawan. Oleh sebab itu, kita sulit kumpul bersembilan. Tapi itu jugalah yang membuat hubungan kita unik. Terbukti, hanya kita yang mampu bertahan dengan pribadi kita masing-masing yang seperti itu. Orang lain sudah ngacir dari zaman kapan tahu. Kita begitu kekanak-kenakan. Kita begitu sulit membuka diri dengan lingkungan. Kita terlalu nyaman bersembilan. Sampai-sampai kita lupa kalau ada teman-teman lain di kehidupan. Beberapa orang bilang kita bersembilan karena etos belajar kita yang sama, dekat dengan dosen dan bla bla bla lainnya. Memang benar, sih. Jika bukan karena jurusan yang neraka ini, kita tidak akan bersembilan. Suara tertawa kita sangat keras, kadang-kadang terlalu keras. Begitulah kalau bertemu orang yang selera humornya sama.

Rey “Frau Wolff”, Mona “Si Butet”, Maya “Miss Sunshine”, Nuke “The Anxious One”, Clara “Mittelalter Girl”, Ardel “Si Cewek Bebek”, Siska “Paling Senior tapi Seperti Junior”, Olly “The I-Keep-My-Life-So-Simple Man”, dan Mumut “The Overthinker”.

Viel Erfolg dengan masa depan. Sampai jumpa lagi tahun depan saat nikahan Siska dan Dika yang sudah kita sangka akan nikah duluan.

Wisudawan dan wisudawati Sastra Jerman FIB UI Agustus 2014. Tiga puluh empat orang. Foto ini diambil saat gladi resik wisuda wisudawan reguler, jadi minus teman-teman dari paralel, juga minus Mbak Tata dan Mbak Put yang saat itu telat ngumpul. Akhirnya kami bisa wisuda empat tahun di jurusan yang seperti neraka ini. Akhirnya kami bisa bergabung dengan Dwita dan Steffi yang sudah lulus semester lalu. Akhirnya kita lulus! Semoga kita beruntung dengan kehidupan selanjutnya!

Wisudawan dan wisudawati Sastra Jerman FIB UI Agustus 2014. Tiga puluh empat orang. Foto ini diambil saat gladi resik wisuda wisudawan reguler, jadi minus teman-teman dari paralel, juga minus Mbak Tata dan Mbak Put yang saat itu telat ngumpul. Akhirnya kami bisa wisuda empat tahun di jurusan yang seperti neraka ini. Akhirnya kami bisa bergabung dengan Dwita dan Steffi yang sudah lulus semester lalu. Akhirnya kita lulus! Semoga kita beruntung dengan kehidupan selanjutnya!

Sayangnya dari semua anggota 5M hanya dia yang bisa datang melihat saya wisuda. Maulana, atau biasa saya panggil Anang. Anak nomor 3, beda dua tahun dengan saya. Jauh lebih tinggi dari saya yang kerdil ini. Menikmati hidup meskipun Bapake suka ngenyek masalah kampusnya. Tipe cowok ideal saya. I’m in love with my own brother.

Sayangnya dari semua anggota 5M hanya dia yang bisa datang melihat saya wisuda. Maulana, atau biasa saya panggil Anang. Anak nomor 3, beda dua tahun dengan saya. Jauh lebih tinggi dari saya yang kerdil ini. Menikmati hidup meskipun Bapake suka ngenyek masalah kampusnya. Tipe cowok ideal saya. I’m in love with my own brother.

*jepret pertama*"Mak, senyum dong."*ternyata di foto tetap tidak senyum*
"Sekarang foto bareng Bapak."*dengan canggung merangkul bahu**canggung, lalu dilepas, tidak jadi merangkul*
My parents just being my parents.  :’D

*jepret pertama*
"Mak, senyum dong."
*ternyata di foto tetap tidak senyum*

"Sekarang foto bareng Bapak."
*dengan canggung merangkul bahu*
*canggung, lalu dilepas, tidak jadi merangkul*

My parents just being my parents.  :’D

Kembang Dini Rachmawati. Teman satu kosan dan satu fakultas. Pertama kali kenalan saat daftar ulang mahasiswa baru. Waktu itu saya sendirian duduk di kumpulan anak fakultas. Dia juga. Lalu dia menyapa saya, menanyakan nama saya. Setelah sedikit basa-basi, dia bertanya tentang kosan sekitar kampus yang masih kosong. Saya bilang kosan saya masih ada yang kosong. Langsung setelah itu dia mengajak saya naik mobilnya untuk menunjukkan lokasi kosan. Di dalam mobil ternyata ada ibunya yang secara mengejutkan ternyata mengikuti komunitas agama yang sama dengan ayah saya. Sekejap kami merasa lebih dekat, bicara tentang buku pengajian yang biasa dibaca setiap hari, kebiasaan anggota untuk menyisihkan waktu berislah diri, dll. Lalu saya menyadari bahwa kami ada di zona yang sama. Kami tidak masalah dengan kehidupan beragama masing-masing orangtua kami namun kami tidak bisa menjadi seperti mereka. Kemudian kami menghabiskan tahun pertama dengan membicarakan apa saja. Awalanya kami berbicara tentang segala hal yang berkaitan dengan Jepang dan Korea. Tahun-tahun berikutnya pembicaraan kami menjadi semakin berat, mulai dari makna Tuhan hingga tema filsafat yang membuat kami berisik malam-malam.
Selama empat tahun ini, dia menjadi penyemangat paling konkret buat saya. Ketika saya sakit namun tetap beraktivitas, ia menaruh makanan dan sebuah catatan manis yang ditulis terbalik. Ketika saya patah hati, dia satu-satunya yang memeluk saya. Ketika saya stres tentang apa saja, dia bersedia mendengarkan curhatan saya. Kadang kami pergi jalan-jalan berdua, ke Museum Gajah, ke Gelar Jepang, atau sekedar makan dan nonton. Kami sering bertukar buku dan mengcopy film dan ebook. Momen yang paling saya suka adalah menghabiskan waktu di kamarnya dan menikmati makanan ajaib yang ia masak sendiri. Saya merasa seperti di rumah.
Sayangnya saya wisuda tahun ini dan dia tahun depan. Saya pun harus pindah kosan karena kerjaan. Dia sudah seperti kakak bagi saya, mengingat usianya yang lebih tua setahun dan pribadinya yang sangat cool. Saya berharap kami akan terus berhubungan, meskipun kami akan sibuk dengan hidup kami masing-masing. Terima kasih atas empat tahun yang luar biasa, terima kasih atas semua dukungannya. Saat kamu wisuda, aku akan datang dengan membawa buket bunga besar juga.
NB: Ini satu-satunya foto kami berdua.

Kembang Dini Rachmawati. Teman satu kosan dan satu fakultas. Pertama kali kenalan saat daftar ulang mahasiswa baru. Waktu itu saya sendirian duduk di kumpulan anak fakultas. Dia juga. Lalu dia menyapa saya, menanyakan nama saya. Setelah sedikit basa-basi, dia bertanya tentang kosan sekitar kampus yang masih kosong. Saya bilang kosan saya masih ada yang kosong. Langsung setelah itu dia mengajak saya naik mobilnya untuk menunjukkan lokasi kosan. Di dalam mobil ternyata ada ibunya yang secara mengejutkan ternyata mengikuti komunitas agama yang sama dengan ayah saya. Sekejap kami merasa lebih dekat, bicara tentang buku pengajian yang biasa dibaca setiap hari, kebiasaan anggota untuk menyisihkan waktu berislah diri, dll. Lalu saya menyadari bahwa kami ada di zona yang sama. Kami tidak masalah dengan kehidupan beragama masing-masing orangtua kami namun kami tidak bisa menjadi seperti mereka. Kemudian kami menghabiskan tahun pertama dengan membicarakan apa saja. Awalanya kami berbicara tentang segala hal yang berkaitan dengan Jepang dan Korea. Tahun-tahun berikutnya pembicaraan kami menjadi semakin berat, mulai dari makna Tuhan hingga tema filsafat yang membuat kami berisik malam-malam.

Selama empat tahun ini, dia menjadi penyemangat paling konkret buat saya. Ketika saya sakit namun tetap beraktivitas, ia menaruh makanan dan sebuah catatan manis yang ditulis terbalik. Ketika saya patah hati, dia satu-satunya yang memeluk saya. Ketika saya stres tentang apa saja, dia bersedia mendengarkan curhatan saya. Kadang kami pergi jalan-jalan berdua, ke Museum Gajah, ke Gelar Jepang, atau sekedar makan dan nonton. Kami sering bertukar buku dan mengcopy film dan ebook. Momen yang paling saya suka adalah menghabiskan waktu di kamarnya dan menikmati makanan ajaib yang ia masak sendiri. Saya merasa seperti di rumah.

Sayangnya saya wisuda tahun ini dan dia tahun depan. Saya pun harus pindah kosan karena kerjaan. Dia sudah seperti kakak bagi saya, mengingat usianya yang lebih tua setahun dan pribadinya yang sangat cool. Saya berharap kami akan terus berhubungan, meskipun kami akan sibuk dengan hidup kami masing-masing. Terima kasih atas empat tahun yang luar biasa, terima kasih atas semua dukungannya. Saat kamu wisuda, aku akan datang dengan membawa buket bunga besar juga.

NB: Ini satu-satunya foto kami berdua.