Kelabu Berkelambu

Understanding the space between everything. Cinemafreak. Naturalist wannabe. Hail orientalism.

Ada kala ketika mimpi jadi nyata. Dan kala itu ia bernafas di awang-awang. Hijau. Itu yang lekat di benaknya. Sepasang alis tebal meneduhi bola mata, menatap selama tiga detik. Ia yang bersembunyi di balik rajutan hitam. Begitu juga rahasia. Terbenam bersama senja, pelan-pelan terkubur sejauh dua ratus meter di dalam kenangan. Itu adalah mimpi tersureal, ter-tidak-mungkin-jadi-nyata. Apakah orang itu tahu, apakah dia tahu. Malam itu awan akan melahap bulan dan mimpi-mimpinya.

10.15.2014

This is why it hurts the way it hurts.

You have too many words in your head. There are too many ways to describe the way you feel. You will never have the luxury of a dull ache.

You must suffer through the intricacy of feeling too much.

"Ich habe versucht,die Vergangenheit zu vergessen, aber die Vergangenheit ist immer da" - Lili Marleen, Suzanne Cohen

—(via kopfundherz)

iran:

When I run after what I think I want, my days are a furnace of stress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me. There is a great secret here for anyone who can grasp it.

~Rumi

Maaf. Karena gengsi, malu, dan ego, ia tidak mudah terlontar oleh lidah. Maaf. Mungkin dunia akan menjadi lebih indah bila ia dengan mudahnya ada. Maaf. Mengapa ia begitu sulit untuk diucapkan. Baik kepada penumpang yang jatuh terluka akibat keteledoran supir angkot maupun kepada seorang gadis naif yang terlanjur diberi harapan palsu. Naluriah rasanya meminta maaf ketika manusia berbuat salah. Logikapun tak akan bohong pada hati. Pernahkah orang memperhatikan, ketika manusia berbuat salah, dan daripada ia meminta maaf, ia bertingkah seperti apa? Kadang ia menjadi begitu agresif, kadang ia langsung menghilang, lalu perlahan-lahan muncul kembali. Maaf atau tidak adanya maaf, manusia berpikir bahwa masalah akan selesai di tempat. Orang yang sama, tempat yang sama, momen yang sama, tidak mungkin akan terulang atau dapat diperagakan ulang. Tapi perasaan tidak punya dimensi. Sekali kesalahan menoreh rasa sakit atau marah di atasnya, ia tidak sulit untuk hilang. Mungkin mata itu tidak menatap, mungkin bibir itu tidak mengucap. Tapi hati bisa mengarahkan rasa itu menjadi sesuatu yang lebih besar. Noda hitam yang besar. Karena tidak munculnya kata maaf, sudah berapa besar noda hitam yang orang ciptakan di hati-hati lainnya. Ya, kita adalah makhluk yang berjalan membawa noda hitam yang terus membesar tanpa tahu harus ke mana membuangnya. Kita adalah makhluk yang menunggu kata “maaf” terucap oleh seseorang. Kita adalah makhluk yang tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf.